Adab Bersalaman Dengan Non Muhrim - Mukena Yumna

Adab Bersalaman Dengan Non Muhrim

1 tahun yang lalu      Artikel Islami
Adab Bersalaman Dengan Non Muhrim

Sahabat Yumna, Tentu kita sering menjumpai sahabat atau keluarga kita yang berjabat tangan atau bersalaman dengan orang lain yang bukan muhrimnya. Hal itu terlihat lumrah, Namun tahukah anda bagaimana adab bersalaman yang seharusnya dengan non muhrim dalam pandangan islam? Sebagaimana dilansir dalam laman UmmiOnline.com penjelasan mengenai bersalaman dengan non muhrim... "Ditikam seseorang di antara kalian dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani). Dalam sebuah hadits Imam Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW Membai'at dengan perempuan bukan muhrimnya, beliau tidak menjabat tangan perempuan tersebut dan membai'atnya dengan ucapan. Dari dua hadist di atas menunjukkkan bahwa seorang muslim tidak boleh bersalaman dengan perempuan yang bukan muhrimnya, begitu pula sebaliknya, karena sentuhan merupakan langkah awal dari perzinahan. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasululllah SAW yang artinya: Telah ditetapkan bagi anak cucu adam bagian zina yang dia pasti mengetahuinya. Zina kedua mata berupa pandangan, zina kedua telinga berupa pedengaran, zina lisan berupa ucapan, zina kaki merupakan langkah dan sentuhan merupakan langkah awal dari semuanya. Adapun perempuan yang bukan mahramnya ada dua macam, yakni perempuan muda perempuan tua. Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda. Adapun penjelasannya sebagai berikut: 1. Hukum jabat tangan dengan perempuan tua: a. Perempuan sudah tidak menarik dan tidak tertarik lawan jenis b. Kedua belah pihak terbebas dari syahwat (hawa nafsu) Berjabat tangan dengan anak (gadis) kecil hukumnya sama dengan perempuan tua. 2. Hukum berjabat tangan dengan perempuan muda Berjabat tangan dengan perempuan yang masih muda mutlak disepakati oleh empat Imam Madzhab. (Syafi'i, Hanafi, Hambali, Maliki). Imam An-Nawawi berkata: Perempuan yang haram dilihat, maka haram disentuh. Boleh memandang perempuan hanya apabila hendak melamarnya. Tetapi tetap tidak boleh menyentuhnya. Tentu hadist ini tidak boleh dipandang sebelah mata mengingat konsekuensi yang akan datang di kemudiian hari. Akan tetapi di lingkungan masyarakat apalagi di lingkungan kerja yang sudah terbiasa bersalaman dengan non muhrim, kita akan dipandang orang yang ekslusif karena tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis. Apalagi beberapa profesi seperti guru yang mengaruskan diri untuk menyalami murid-muridnya. Inilah realita yang harus dijalani oleh orang yang berusaha menjaga iffah mereka. Tetapi banyak yang merasa sungkan hingga akhirnya benteng ini pun luluh. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa menjaga iffah sampai-sampai Nabi Muhammad SAW meminta khusus kepada Allah sebagaimana riwayat Imam Mas'ud ra: Ya Allah Aku Mohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan. (HR. Muslim 6842).




Komentar Artikel "Adab Bersalaman Dengan Non Muhrim"